by

Sebaik-Baik Manusia Adalah yang Paling Bermanfaat Bagi Manusia Lainnya

Khoirunnas anfauhum linnas” (خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ). Mafhum hadits yang artinya; “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad, Thabrani, dan Daruquthni).

Petikan hadits ini hendaknya menjadi pedoman, terutama pada setiap saudara muslim, agar tidak sebatas di amalkan dalam hal-hal yang dipandang secara dzohir saja.

Namun yang sangat penting adalah karena atau asbab kepekaan pribadi, sehingga ada diantara aspek sosial bagi setiap insan/individu yang mengarahkan perilaku bermaksiat kepada Allah SWT, dapat diluruskan dengan kata lain diselamatkan.

Apalagi dari praktek perbuatan maksiat yang biasa dilakukan awalnya oleh satu individu, namun tanpa disadari dosa-dosanya berdampak hingga ke banyak orang (masyarakat).

“Karena itu perlunya kehati-hatian, dan supaya mulai meningkatkan kepedulian satu sama lain dalam kehidupan. Khawatirnya, meski amal ibadah kita sudah baik, hanya karena tergerus oleh kurang tanggap terhadap permasalahan disekelilingnya, di akhir hayat bukanya Rahmat Allah yang diperoleh, namun justru nambah memberatkan hisap,” demikian petikan khutbah Jum’at pekan lalu.

Umpama yang umum terjadi pada umat akhir zaman, melalaikan atau bakhil terhadap keperluan saudara muslim meskipun dengan nilai materi yang sedikit, sehingga si pemilik kebutuhan terpaksa melakukan perbuatan dosa seperti pinjam ke rentenir, maka yang diperoleh transfer dosa mengalir pada lingkungan individu tersebut.

Contoh lain, dalam antara lingkup rumah tangga atau kerabat, isteri atau suami melakukan perbuatan di luar batas perintah serta larangan Allah dan Rasulullah, maka semua dosa-dosa yang dilakukan akan mengalir kepada orang tuanya. Celakanya lagi, bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

Singkat kata, memberi makan kepada orang yang sedang lapar, membantu orang yang terhimpit masalah. Sangat besar Rahmat yang diperoleh dari Allah SWT, bahkan dapat mengalahkan pahala ibadah Istiqomah 60-70 tahun.

Dalam riwayat, salah seorang umat Nabi Musa AS, meski sudah beribadah ratusan tahun tanpa maksiat diputuskan masuk neraka, spontanitas bisa mengubah kehendak atau Rahmat Allah, disebabkan risau pikir sesaat terhadap sesama saudara muslimnya di zaman itu. (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.