Diperkirakan 1,5 – 5 juta Ummat yakni jamaah berasal dari kalangan Nasional maupun Internasional, akan mengikuti Tabligh Akbar/ IJTIMA, tepatnya di Kota Baru Lampung Selatan, Provinsi Lampung (28-30 Oktober 2025).
Masyarakat luas mungkin pernah di datangi jamaah tabligh berpakaian ala Arab, guna diajak shalat berjamaah ke masjid. Di ajak ngaji, bahkan makan berjamaah dalam rangka menyatukan hati serta niat menjelang IJTIMA yang mengusung tema Indonesia Berdoa.
Secara berjamaah shalat, ngaji, mendengarkan tausiah, jamaah ini selalu menjadikan masjid untuk singgah, sekaligus pusat dakwah. Jamaah yang fokus dalam usaha dakwah ini, meninggalkan hal-hal yang bersifat hilapiah (perbedaan pendapat), namun cenderung untuk ajakan demi penyelamatan umat di seluruh alam.
Intinya siap berbaur dengan berbagai aliran organisasi seperti NU maupun Muhammadiyah, bahkan perbedaan mashab antar negara. Contoh seperti doa qunut pada shalat subuh, bagi yang menggunakan atau tidak, yang terpenting usaha dakwah tetap menyasar kepada seluruh saudara muslim dibawah naungan kalimat Laailaha Illallah.
Karena hakekatnya meneruskan tugas kenabian atau ibadah Nurbuat, sehingga rela meninggalkan anak istri, demi berdakwah ke kampung atau negara lain. Nah, kali ini, para jamaah ini akan berkumpul di Lampung dengan skala yang sangat besar. Diperkirakan minimal 1,5 juta Ummat.
Lampung, sebentar lagi akan berevolusi menjadi organisme raksasa yang membuat para ilmuwan biologi pun tercengang. Di tengah lahan kosong seluas 33 hektare itu, Masjid Agung Al Hijrah berdiri seperti inti sel yang menunggu ledakan kehidupan. Dari 28–30 November 2025.
Kota Baru, Lampung Selatan, diperkirakan akan dibanjiri 1,5 juta jamaah. Ini suatu populasi yang setara dengan kota besar yang tiba-tiba muncul seperti koloni organisme pada fase pertumbuhan log.
“Organisme” ini datang dari seluruh penjuru bumi. Dari Malaysia, Brunei, Thailand, lalu dari pusat-pusat gen tabligh dunia, seperti India, Pakistan, Bangladesh. Dari Timur Tengah hadir membawa angin gurun, dari Afrika Selatan, Kenya, Tanzania, hingga Eropa, Amerika Serikat, Kanada. Dunia yang biasanya ribut soal perang, ekonomi, dan politik, tiba-tiba kompak bermigrasi ke Lampung hanya untuk satu hal yang terdengar sederhana namun dahsyat, mendengar dakwah tentang shalat, masjid, dan hidup yang lebih jernih.
Fenomena apa lagi yang lebih menggetarkan selain melihat manusia dari lima benua duduk di tanah kosong sambil mencari arah hidup?
Sementara itu, pemerintah bekerja seperti sistem imun adaptif yang mendeteksi datangnya gelombang besar kehidupan. Jalan menuju Kota Baru diperbaiki, akses dari Bandara Radin Inten II sejauh 25–30 km dipol agar tidak terjadi “penyumbatan nadi” lalu lintas. Dari Bandar Lampung, 20 km jalur Jl. ZA Pagar Alam – Jl. Ryacudu disterilkan untuk memastikan mobil, bus, dan manusia bisa bergerak seperti aliran darah yang lancar.
Parkir raksasa, dapur umum sebagai mitokondria massal, posko kesehatan sebagai penyembuh ribosom, hingga jalur evakuasi yang siap sebagai saraf simpatis, semua dipersiapkan untuk memastikan organisme raksasa ini tidak kolaps.
Tentu ada yang sinis, meragukan acara sebesar ini bebas dari embel-embel politik. Tapi Jamaah Tabligh adalah spesies unik. Autotrof spiritual yang hidup dari dzikir, bukan dari baliho. Mereka lebih sibuk menghafal doa dari menghafal janji kampanye. Kalau ada yang mencoba menumpang momentum, siap-siap saja mengalami “penolakan organ.” Yang diterima hanya tasbih, bukan spanduk calon.
Inilah puncak keajaibannya. Masjid Agung Al Hijrah akan menjelma menjadi organ pusat. Lahan kosong berubah menjadi matriks jaringan hidup, dan udara akan dipenuhi “spora-spora doa” yang terbang ke langit. Seorang jamaah dari Afrika Selatan bisa duduk di samping warga Lampung, makan nasi bungkus yang sama, tidur di tenda yang sama, mendengarkan ceramah yang intinya sama, hidup ini sebentar, jangan jadi menyelamatkan yang merusak..
Terlalu berlebihan? Silakan katakan begitu. Tapi bagaimana lagi menggambarkan 1,5 juta manusia yang rela datang ke tanah kosong demi mencari ketenangan batin? Ini bukan sekadar acara, ini fenomena rohaniah biologi yang tidak akan terulang setiap tahun.
Akhir November 2025 nanti, Lampung tidak lagi hanya titik di peta Nusantara, melainkan pusat metabolisme iman dunia. Di saat bumi dipenuhi bisingnya perang dan krisis, Lampung memberi pesan sederhana namun mencengangkan, terkadang kebesaran sejati tidak diukur dari gedung pencakar langit, melainkan dari hati-hati yang rela menunduk sedalam-dalamnya kepada Yang Maha Tinggi. (***)








Comment